F-35 Lightning II adalah hasil dari program Joint Strike Fighter. Pesawat ini adalah pesawat tempur berkursi tunggal, bermesin tunggal, yang dapat melakukan banyak fungsi, antara lain pertempuran udara-ke-udara, dukungan udara jarak dekat, dan pengeboman taktis. Pesawat ini dikembangkan dan diproduksi oleh industri kedirgantaraan yang dipimpin oleh Lockheed Martin serta dua rekan utamanya, BAE Systems dan Northrop Grumman. Prototype pertama kali terbang pada tahun 2000, dan pesawat versi produksi pertama kali terbang pada 15 Desember 2006. F-35 dipersipakan untuk mengganti enam jenis pesawat sekaligus yaitu F-16 Fighting Falcon, F/A-18 Hornet, A-10 Thunderbolt, AV-8 Harrier, Harrier GR7/9, dan Panavia Tornado.
Sejarah
Program JAST
Program Joint Advanced Strike Technology (JAST) dimulai pada tahun 1993. Departemen Pertahanan AS juga memutuskan untuk tetap mengembangkan F-22 yang sewaktu itu kontroversial, membatalkan program Multi-Role Fighter (MRF) dan A/F-X, serta menghentikan pembelian F-16 dan F/A-18C/D. Kemudian program JAST digabungkan dengan program Common Affordable Lightweight Fighter (CALF), membentuk program Joint Strike Fighter (JSF).
X-32 dan X-35
Kontrak JSF diberikan kepada Lockheed Martin dan Boeing pada tanggal 16 November 1996. Masing-masing perusahaan diharuskan untuk membuat dua pesawat yang dapat mendemonstrasikan lepas landas dan mendarat konvensional (conventional takeoff and landing, CTOL), lepas landas dan mendarat pada kapal induk, dan lepas landas pendek dan mendarat vertikal (short-takeoff and vertical-landing, STOVL). Lockheed Martin mengembangkan X-35 dan Boeing mengembangkan X-32.
Pada tanggal 26 Oktober 2001, diumumkan bahwa X-35 Lockheed Martin mengalahkan X-32 Boeing. Petinggi Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan Inggris menyatakan bahwa X-35 secara konsisten mengungguli X-32, walaupun keduanya sudah memenuhi syarat.
Penamaan
Lockheed Martin, yang mengembangkan pesawat ini dengan nama “F-24″, terkejut ketika mengetahui bahwa pesawat ini akan diberi nama “F-35″.Pada 7 Juli 2006, Angkatan Udara Amerika Serikat secara resmi mengumumkan nama F-35, yaitu Lighting II. Nama ini juga dipakai untuk mengenang pesawat sebelumnya, yaitu P-38 Lightning dan English Electric Lightning. Nama lain yang sempat dipikirkan adalah Kestrel, Phoenix, Piasa, Black Mamba, dan Spitfire II. Lighting II juga sempat menjadi nama untuk F-22 Raptor.
Pengetesan
Pada 19 Februari 2006, F-35A pertama dimunculkan di Fort Worth, Texas. Pesawat ini melewati pengetesan darat yang berat di Edwards Air Force Base pada musim gugur 2006. Pada 15 September, pengetesan pertama mesin Pratt & Whitney F135 dilakukan, dan diselesaikan pada 18 September dengan pengetesan afterburner. Kemudian pada tanggal 15 Desember, F-35A melakukan penerbangan pertamanya.
Varian
Program Joint Strike Fighter didirikan untuk mengantikan pesawat tempur lama, dengan biaya pengembangan, produksi, dan operasi yang relatif kecil. Ini dicapai dengan membuat pesawat tempur dengan tiga varian, yang masing-masing memiliki kesamaan 80%. Ketiga varian tersebut adalah:
• F-35A, Pesawat lepas landas dan mendarat konvensional (conventional takeoff and landing, CTOL) yang akan menggantikan F-16 Fighting Falcon Angkatan Udara Amerika Serikat mulai tahun 2011.
• F-35B, Pesawat lepas landas pendek dan mendarat vertikal (short-takeoff and vertical-landing, STOVL) yang akan menggantikan AV-8 Harrier II dan F/A-18 Hornet Korps Marinir Amerika Serikat serta Angkatan Laut Italia, dan Harrier GR7/GR9 Britania Raya mulai tahun 2012.
• F-35C, Pesawat kapal induk yang akan menggantikan F/A-18 Hornet (varian A/B/C/D saja) Angkatan Laut Amerika Serikat mulai tahun 2012.
Spesifikasi (F-35A Lightning II)
Karakteristik umum
• Kru: 1
• Panjang: 51.4 ft (15.67 m)
• Lebar sayap: 35 ft (10.7 m)
• Tinggi: 14.2 ft (4.33 m)
• Area sayap: 460 ft², (42.7 m²)
• Berat kosong: 29,300 lb (13,300 kg)
• Berat terisi: 44,400 lb (20,100 kg)
• Berat maksimum lepas landas: 70,000 lb (31,800 kg)
• Mesin: 1× Pratt & Whitney F135 afterburning turbofan
o Dorongan: 28,000 lbf (125 kN)
o Dorongan dengan afterburner: 43,000 lbf (191 kN)
o Internal fuel:18,480 lb (8,382 kg)
Performa
• Kecepatan maksimum: Mach 1.67 (1,283 mph, 2,065 km/h)
• Jarak jangkau: 1,200 nmi (2,220 km) on internal fuel
• Radius tempur: 610 nmi (1,110 km) on internal fue
• Ketinggian maksimum: 60,000 ft (18,288 m)
• Beban sayap: 91.4 lb/ft² (446 kg/m²)
Persenjataan
• Kanon: 1 × GAU-22/A
• Pylon: 6× external, 2× internal dengan masing-masing 2 pylon
o Rudal:
Udara-udara: AIM-120 AMRAAM, AIM-132 ASRAAM, AIM-9X Sidewinder
Udara-darat: AGM-154 JSOW, AGM-158 JASSM
o Bom:
Mark 84, Mark 83 and Mark 82 GP bombs
Mk.20 Rockeye II cluster bomb
Wind Corrected Munitions Dispenser capable
Paveway-series laser-guided bombs
Small Diameter Bomb (SDB)
JDAM-series
A future nuclear weapon
Avionik
Radar: AN/APG-81


Jet tempur terbaru andalan AL AS, F/A-18E/F Super Hornet, bisa dibilang sebagai salah satu multirole fighter generasi 4.5 terbaik yang ada di dunia saat ini. Jet tempur yang kira-kira berharga $50 juta sebuah ini pengembangannya dimulai dari awal 1990-an saat proyek A-12 Avenger II yang diproyeksikan sebagai pengganti jajaran A-6 dan A-7 dibatalkan oleh pemerintah AS. Oleh pihak AL AS, dana proyek tersebut lantas dialihkan untuk mengembangkan sebuah pesawat tempur masa depan yang basisnya diambil dari jet tempur garis depan AL yang telah battle-proven, McDonnell Douglas F/A-18 Hornet. Pada 1995 McDonnell Douglas merilis prototype Super Hornet untuk kali perdana. Perbedaan antara Super Hornet alias ‘Rhino’ atau ‘Superbugs’ (callsign yang diberikan US Navy untuk membedakan antara Hornet dengan Super Hornet saat peluncuran dengan ketapel di dek kapal induk) dengan Hornet adalah pada ukurannya yang 25% lebih besar, mesin F414 yang lebih bertenaga, radar APG-79 AESA, sensor AN/ASQ-228 ATFLIR (Advanced Targeting Forward-Looking Infra Red) dan bentuk intake yang berbentuk persegi, yang berfungsi untuk mengurangi RCS (Radar Cross Section). Sesuai dengan tugasnya yang diproyeksikan sebagai penempur garis depan AL AS, Super Hornet dilengkapi 11 cantelan senjata yang dapat dipergunakan untuk menggotong beragam rudal dan bom generasi akhir. Super Hornet mulai dioperasikan AL AS secara penuh pada era 2004-2005 ketika armada F-14 Tomcat dipensiunkan. Jet ini langsung berkiprah di medan tempur ketika diturunkan dalam Operasi Enduring Freedom di Afganisthan dan Operasi Iraqi Freedom di Irak. Dalam perkembangannya, Boeing yang kini memegang produksi Super Hornet usai mengakuisisi McDonnell Douglas juga membuat versi serang elektronik yaitu EA-18G Growler. Growler akan diplot menggantikan jajaran EA-6B Prowler yang sudah mulai menua. Selain AL AS, AU Australia juga memesan 24 Super Hornet yang akan diplot menggantikan F-111 Aardvark. Kabar terbaru menyebutkan 12 pesanan Australia akan dikonversi menjadi EA-18G Growler. Selain itu Boeing juga mengikuti tender jet tempur multifungsi untuk AU India, dimana nantinya Hornet India akan diberi nama F/A-18IN. Namun kabarnya India lebih memilih Su-30 Flanker. Jika di India Hornet kalah bersaing dengan Flanker, di Brazil justru Super Hornet terpilih menjadi 1 dari 3 ‘finalis’ proyek jet tempur masa depan AU Brazil.